VESTO.ID – Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) mendorong pemerintah untuk meninjau ulang kebijakan efisiensi anggaran. Kebijakan tersebut dinilai berdampak langsung pada penurunan tingkat hunian hotel di berbagai daerah.
Ketua Organizing Committee Rakernas IHGMA, Fahrurrazi, menyebut penurunan bisnis hotel secara nasional dalam setahun terakhir mencapai kisaran 27 hingga 30 persen. Menurutnya, kondisi ini tidak lepas dari berkurangnya aktivitas pemerintah di sektor perhotelan.
Selama ini, hotel masih mengandalkan kegiatan instansi pemerintah seperti rapat, pertemuan, hingga perjalanan dinas. Ketika anggaran untuk kegiatan tersebut dipangkas, permintaan kamar hotel pun ikut melemah.
Meski begitu, pelaku industri tidak tinggal diam. Berbagai strategi dilakukan untuk bertahan, mulai dari efisiensi operasional hingga penyesuaian biaya usaha.
“Industri ini harus terus beradaptasi. Kami melakukan berbagai langkah untuk menekan biaya dan menjaga keberlangsungan bisnis,” ujar Fahrurrazi.
IHGMA juga menekankan bahwa sektor perhotelan memiliki kontribusi besar terhadap penerimaan negara dan daerah. Pajak hotel bahkan menjadi salah satu penyumbang utama pendapatan asli daerah, berada di posisi kedua hingga ketiga, serta masuk lima besar secara nasional.
Karena itu, IHGMA berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali kebijakan efisiensi yang berlaku saat ini.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat hunian kamar hotel berbintang pada Februari 2026 berada di angka 44,89 persen. Angka tersebut turun dibanding Januari 2026 yang mencapai 47,53 persen.
Sementara itu, rata-rata lama menginap tamu masih tergolong singkat. Pada Februari 2026 tercatat 1,64 hari, sedikit lebih tinggi dari Januari yang berada di 1,59 hari. Durasi ini dinilai belum cukup mendorong perputaran ekonomi di sektor perhotelan.
Ketua Umum IHGMA, I Gede Arya Pering Arimbawa, menambahkan tekanan terhadap industri hotel juga dipengaruhi faktor global. Salah satunya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berdampak pada terganggunya penerbangan internasional.
Ia mencontohkan insiden serangan rudal di Bandara Abu Dhabi pada awal Maret yang menyebabkan sejumlah jadwal penerbangan terganggu. Dampaknya dirasakan hingga ke Indonesia, terutama di Bali yang mengandalkan wisatawan mancanegara.
“Wilayah yang paling terasa dampaknya adalah Bali, karena pasar internasionalnya cukup besar,” kata Arimbawa.













