UMKM  

Anyaman Bambu Cikiray, UMKM Rumahan yang Menopang Ratusan Keluarga di Salawu

Ratusan keluarga menggantungkan penghasilan pada produksi nyiru, ayakan, dan boboko yang dipasarkan rutin melalui pengepul, menjaga denyut ekonomi desa tetap bergerak.

Ncep
Warga Kampung Cikiray meraut bilah bambu sebagai tahap awal produksi kerajinan anyaman yang menjadi sumber penghidupan mereka

Tasikmalaya, Vesto – Aktivitas ekonomi berbasis rumah tangga tumbuh konsisten di Kampung Cikiray, Desa Salawu, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya. Di balik deretan rumah sederhana, ratusan warga menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kerajinan anyaman bambu yang telah menjadi sumber penghidupan turun-temurun.

Hampir setiap halaman rumah difungsikan sebagai ruang produksi. Bilah-bilah bambu diraut tipis, lalu dianyam menjadi berbagai perlengkapan dapur dan kebutuhan rumah tangga, seperti nyiru, ayakan, boboko, hingga aseupan. Produk-produk ini dipasarkan melalui sistem pengepul yang secara rutin datang setiap pekan.

Nanang, salah satu perajin, mengatakan, usaha anyaman bambu bukan sekadar pekerjaan sampingan. Di kampung itu, kerajinan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

“Hampir seluruh warga menggantungkan hidup dari anyaman bambu. Ini sudah menjadi tradisi sekaligus sumber penghasilan utama,” ujar Nanang, Kamis, 30 April 2026.

Mayoritas pelaku usaha adalah perempuan. Mereka bekerja dari rumah sembari menjalankan peran domestik. Dalam satu hari, perajin dapat menyelesaikan dua hingga tiga unit produk, tergantung jenis dan tingkat kesulitannya. Untuk produk seperti nyiru atau aseupan, waktu pengerjaan relatif singkat, bahkan kurang dari satu jam per unit. Sementara boboko membutuhkan waktu lebih lama.

Ani, perajin lainnya, mengaku telah mengenal keterampilan menganyam sejak usia dini. Ia belajar dari orang tuanya, mulai dari proses pemilihan dan perautan bambu hingga teknik penyusunan anyaman. Kini, keahlian itu menjadi sumber pendapatan harian bagi keluarganya. “Sejak kecil sudah diajarkan. Sekarang ini jadi pekerjaan utama,” katanya.

Kepala Desa Salawu, Tatang, menyebutkan, sedikitnya ratusan kepala keluarga di Kampung Cikiray bergantung pada sektor kerajinan bambu. Menurut dia, stabilitas pemasaran menjadi faktor penting yang menjaga keberlanjutan usaha warga.

“Pemasaran relatif stabil karena hasil produksi selalu terserap pengepul. Sebanyak apa pun yang dihasilkan, tetap ada yang membeli,” ujar Tatang.

Meski masih dikelola secara tradisional dan berbasis rumah tangga, aktivitas ini mencerminkan ketahanan ekonomi desa. Dengan pola produksi sederhana namun konsisten, UMKM anyaman bambu di Cikiray menjadi contoh bagaimana industri kreatif lokal mampu menopang ekonomi masyarakat sekaligus menjaga warisan keterampilan turun-temurun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *