Di era banjir platform digital, banyak brand justru kehilangan posisi di benak konsumen karena mencoba hadir di semua kanal sekaligus.
Tasikmalaya, Vesto – Dalam dunia pemasaran modern, godaan terbesar bukan lagi sekadar menciptakan produk baru, melainkan keinginan untuk hadir di semua tempat sekaligus.
TikTok? Masuk. Instagram? Wajib. Threads? Coba dulu. LinkedIn? Ikutan juga.
Masalahnya, konsumen tidak bekerja seperti algoritma. Pikiran manusia menyukai kesederhanaan. Mereka ingin mengingat satu hal kuat tentang sebuah brand, bukan sepuluh pesan berbeda yang berubah tiap platform.
Di sinilah konsep klasik dari Al Ries dan Jack Trout kembali relevan. Dalam buku legendaris Positioning: The Battle for Your Mind, mereka mengingatkan: “The more things you try to be, the more things you aren’t.” Semakin banyak hal yang ingin Anda jadi, semakin Anda kehilangan jati diri.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru menjadi masalah besar dalam lanskap digital saat ini.
Brand Modern Terjebak Menjadi “Semua Orang”
Banyak perusahaan menganggap semakin banyak platform berarti semakin besar peluang pasar. Padahal, setiap platform memiliki budaya, audiens, dan ekspektasi berbeda.
TikTok mengutamakan hiburan cepat. LinkedIn berbasis otoritas profesional. Instagram mengandalkan visual aspiratif. Threads cenderung percakapan spontan. Ketika satu konten didaur ulang mentah-mentah ke semua kanal, brand kehilangan karakter.
Akibatnya bukan sekadar engagement turun. Yang lebih berbahaya adalah persepsi merek menjadi kabur.
Dalam teori positioning, persepsi adalah segalanya. Konsumen tidak membeli produk terbaik. Mereka membeli produk yang paling jelas tertanam di pikiran.
Laporan terbaru dari Content Marketing Institute menunjukkan bahwa brand yang fokus pada satu hingga dua kanal utama mencatat ROI sekitar 30% lebih tinggi dibanding brand yang menyebarkan konten tipis di terlalu banyak platform.
Data itu menjelaskan satu fakta penting: fokus bukan kelemahan. Fokus adalah strategi.
Era Digital Tidak Menghapus Hukum Positioning
Banyak pelaku bisnis mengira aturan pemasaran klasik sudah tidak berlaku karena adanya AI, short video, dan media sosial. Kenyataannya justru sebaliknya. Era digital mempercepat kompetisi perhatian manusia.
Menurut Seth Godin, “Marketing is no longer about the stuff you make, but about the stories you tell.” “Pemasaran bukan lagi soal produk yang Anda buat, tetapi cerita yang Anda tanamkan.”
Masalahnya, cerita sulit tertanam jika berubah-ubah di setiap platform.
Brand yang kuat biasanya memiliki satu asosiasi dominan. Ketika mendengar Volvo, publik langsung berpikir soal keamanan. Ketika menyebut Red Bull, orang mengingat energi dan ekstremitas.
Mereka tidak mencoba menjadi semuanya sekaligus.
Di Indonesia, banyak UMKM dan startup justru menghabiskan energi membuat konten harian di semua kanal tanpa strategi positioning yang jelas. Akhirnya, tim lelah, biaya naik, tetapi identitas brand melemah.
Sedikit Kanal, Tapi Dominan
Strategi yang lebih efektif justru sering terlihat “membosankan”: memilih kanal utama lalu mendominasi di sana.
Jika targetnya Gen Z visual, fokuslah di TikTok dan Instagram. Jika bermain di B2B, LinkedIn jauh lebih strategis dibanding memaksa viral di semua platform.
Dalam perang pemasaran modern, perhatian konsumen terlalu mahal untuk dihamburkan. Brand yang menang bukan yang paling ramai, melainkan yang paling mudah diingat.
Dan dalam dunia digital yang semakin bising, fokus telah berubah menjadi kemewahan strategis. (ndo)











