Di era banjir konten media sosial, banyak brand aktif setiap hari tetapi gagal membangun persepsi kuat di kepala konsumen. Pakar positioning menilai sebagian besar konten digital hari ini hanya menambah noise tanpa memperjelas identitas merek.
Tasikmalaya, Vesto – Banyak perusahaan masih salah memahami fungsi media sosial. Mereka mengira platform digital adalah tempat berdiskusi panjang, mengikuti semua tren, atau sekadar mencari engagement harian.
Padahal dalam perspektif positioning ala Jack Trout, media sosial memiliki fungsi jauh lebih sederhana sekaligus lebih lugas: menancapkan persepsi.
Jika sebuah brand ingin dikenal cepat, premium, aman, murah, atau inovatif, maka seluruh kontennya harus terus memperkuat satu makna itu.
Jack Trout menegaskan:
“Marketing is not a battle of products. It’s a battle of perceptions.”
(“Pemasaran bukan perang produk. Ini adalah perang persepsi.”)
Masalahnya, banyak akun brand hari ini justru berbicara terlalu banyak hal. Hari ini membuat meme lucu, besok ikut tren, lusa bicara isu yang sama sekali tidak berkaitan dengan positioning bisnis.
Akibatnya sederhana: ramai, tetapi kosong.
Konten yang Tidak Memperkuat Perbedaan Hanya Menambah Noise
Menurut laporan “Digital 2025” dari We Are Social, pengguna internet global kini mengonsumsi ribuan konten setiap hari. Dalam kondisi seperti itu, otak manusia hanya menyimpan pesan yang sederhana, konsisten, dan berbeda.
Inilah mengapa brand besar sangat disiplin menjaga arah komunikasi mereka.
Apple terus menanamkan kesan minimalis dan premium. Volvo Cars selama puluhan tahun konsisten membangun persepsi tentang keamanan. Sementara Nike tanpa lelah memperkuat citra disiplin dan mental juara.
Mereka tidak berbicara semua hal. Mereka hanya memukul satu pesan berulang-ulang sampai menempel di kepala pasar.
Al Ries dalam Positioning: The Battle for Your Mind menulis:
“The essence of positioning is sacrifice.”
(“Esensi positioning adalah keberanian untuk mengorbankan banyak hal.”)
Termasuk mengorbankan konten-konten yang memang berpotensi viral tetapi tidak mendukung identitas merek.
Brand Kuat Dibangun dari Konsistensi, Bukan Keramaian
Kesalahan banyak perusahaan lokal adalah mengukur keberhasilan media sosial dari likes dan views. Padahal engagement tinggi belum tentu menciptakan memori merek.
Konten yang baik bukan yang paling ramai dikomentari. Konten yang baik adalah yang memperjelas posisi brand di benak konsumen.
Di era algoritma, perhatian memang mudah didapat. Tetapi persepsi sangat mahal dibangun.
Karena itu, brand cerdas mulai mengurangi konten yang tidak relevan dan lebih fokus pada komunikasi yang konsisten terhadap positioning inti mereka.
Sebab pada akhirnya, media sosial bukan tempat untuk sekadar eksis.
Ia adalah medan perang untuk memperebutkan satu ruang kecil di kepala konsumen. (ndo)











