Ketergantungan pada tisu basah sekali pakai diam-diam memperbesar krisis sampah plastik rumah tangga—padahal solusi sederhana dan lebih hemat sudah ada di sekitar kita.
Tasikmalaya, Vesto – Tisu basah terasa seperti jawaban atas gaya hidup serba cepat. Praktis, higienis, dan langsung dibuang. Tapi di balik satu lembar yang kita pakai, ada jejak panjang yang tidak ikut hilang.
Sebagian besar tisu basah komersial mengandung serat plastik mikro. Artinya, setelah dibuang, ia tidak benar-benar terurai.
Data dari berbagai laporan lingkungan global menunjukkan, produk sekali pakai kini menjadi salah satu penyumbang utama limbah rumah tangga—dan volumenya terus meningkat seiring gaya hidup instan.
Masalahnya bukan pada satu produk. Tapi pada frekuensinya. Dipakai setiap hari, dibuang tanpa pikir panjang.
Di titik itu, kenyamanan berubah jadi beban lingkungan.
Dari Kebiasaan Kecil, Dampak Besar
Di Tasikmalaya, Deviani melihat persoalan ini dari sudut yang sangat personal: rumah tangga. Sebagai pendiri komunitas Rumah Eco-Enzym, ia terbiasa mengajak orang melihat ulang kebiasaan yang selama ini dianggap normal.
“Kita sering merasa perubahan itu harus besar. Padahal yang paling berdampak justru yang kita lakukan setiap hari,” ujarnya.
Bagi Deviani, tisu basah adalah contoh paling nyata. Produk kecil, tapi digunakan terus-menerus. Dan karena itu, dampaknya juga berlipat.
Alih-alih menghindari sepenuhnya, ia memilih pendekatan yang lebih realistis: mengganti.
Belajar dari Praktik Sederhana yang Efektif
Gagasan ini sejalan dengan pendekatan yang mengembangkan metode membuat tisu basah dari kain bekas. Bukan sekadar alternatif, tapi perubahan cara pandang: dari sekali pakai menjadi pakai ulang.
Resepnya sederhana. Kain katun bekas dipotong kecil, lalu direndam dalam campuran air, gel lidah buaya, sedikit alkohol pembersih, dan beberapa tetes minyak esensial. Disimpan dalam wadah kedap udara, tisu ini bisa bertahan hingga enam bulan.
Tidak ada teknologi rumit. Tidak ada biaya besar.
Yang ada justru efisiensi.
“Kadang kita terlalu fokus pada produk ‘ramah lingkungan’ yang mahal, tapi lupa bahwa solusi paling efektif justru dari apa yang sudah kita punya,” kata Deviani.
Lebih Hemat, Lebih Masuk Akal
Ada sisi lain yang jarang dibicarakan: ekonomi rumah tangga. Tisu sekali pakai mungkin terlihat murah dalam sekali beli. Tapi dalam penggunaan harian, biayanya terus terakumulasi.
Sebaliknya, tisu kain adalah investasi kecil dengan umur pakai panjang. Satu set bisa digunakan berulang kali, dicuci, lalu dipakai kembali.
Di sinilah gaya hidup ramah lingkungan bertemu dengan logika efisiensi. Bukan hanya soal menyelamatkan bumi, tapi juga mengelola pengeluaran dengan lebih cerdas.
Tantangan Sebenarnya: Konsistensi
Namun perubahan ini tidak tanpa tantangan. Menggunakan tisu kain berarti harus mencuci, menyimpan, dan mengelolanya.
Devani tidak menampik itu.
“Memang sedikit lebih repot di awal. Tapi kalau sudah terbiasa, justru terasa lebih masuk akal,” katanya.
Ia menyarankan memulai dari skala kecil. Satu kotak tisu kain di rumah, atau satu set untuk dibawa di mobil. Tidak perlu langsung sempurna.
Yang penting mulai.
Pilihan yang Terlihat Kecil
Pada akhirnya, isu plastik sekali pakai bukan soal kita tidak tahu. Tapi soal pilihan yang kita ulang setiap hari.
Satu lembar tisu mungkin terasa tidak berarti. Tapi jutaan lembar setiap hari adalah cerita yang berbeda.
Dan mungkin, perubahan itu tidak datang dari keputusan besar.
Tapi dari momen sederhana—ketika kita berhenti sejenak, melihat apa yang kita buang, lalu bertanya: benarkah ini satu-satunya cara? (Ndo)









