Gaya hidup ramah lingkungan sering dianggap mahal, padahal pendekatan sederhana di rumah justru bisa memangkas pengeluaran sekaligus menekan jejak karbon.
Tasikmalaya, Vesto – “Hijau itu mahal.” Kalimat ini sudah terlalu lama dipercaya. Rak supermarket penuh dengan produk berlabel eco, organik, atau sustainable—dan hampir semuanya datang dengan harga lebih tinggi.
Masalahnya, persepsi ini membuat banyak orang berhenti sebelum mencoba.
Padahal, menurut berbagai laporan keberlanjutan rumah tangga, pengeluaran terbesar justru datang dari produk sekali pakai dan bahan kimia komersial yang dibeli berulang. Artinya, bukan gaya hidup hijaunya yang mahal—tapi kebiasaan lamanya.
Di titik ini, pertaruhannya sederhana: terus membeli, atau mulai mengelola.
Dari Rumah Sendiri, Bukan dari Produk Baru
Di Tasikmalaya, Deviani melihat perubahan itu tidak datang dari label produk, tapi dari cara berpikir. Sebagai pendiri Rumah Eco-Enzym, ia terbiasa meramu kebutuhan rumah tangga dari bahan sederhana.
“Kita terlalu sering mencari solusi di luar, padahal banyak yang bisa kita buat sendiri dengan biaya jauh lebih kecil,” ujarnya.
Pendekatan ini bukan sekadar eksperimen. Ini strategi.
Dengan mengurangi ketergantungan pada produk pabrik, rumah tangga menjadi lebih mandiri—dan secara otomatis, lebih hemat.
Efisiensi yang Terbukti, Bukan Sekadar Tren
Pendekatan ini sejalan dengan metode yang menunjukkan bahwa rumah hijau tidak harus mahal.
Salah satu contohnya adalah pembersih lantai buatan sendiri. Dengan campuran sederhana seperti asam sitrat, air, minyak esensial, dan sedikit sabun, biaya yang dibutuhkan jauh lebih rendah dibandingkan produk komersial.
Hasilnya tetap efektif. Bahkan sering kali lebih aman, karena minim bahan kimia keras.
“Kadang kita membayar mahal untuk sesuatu yang sebenarnya bisa kita buat sendiri,” kata Deviani.
Di sinilah efisiensi mulai terasa nyata—bukan sebagai konsep, tapi sebagai pengeluaran yang benar-benar berkurang.
Menghemat Tanpa Mengorbankan Kualitas
Hal serupa terjadi di area lain, seperti mencuci pakaian. Banyak deterjen ramah lingkungan di pasaran dijual dengan harga tinggi. Tapi alternatif alami—seperti bahan yang mengandung saponin—bisa bekerja dengan fungsi yang sama.
Di dapur, pendekatan ini bahkan lebih terasa. Buah yang hampir busuk bisa diselamatkan, sisa bahan bisa diolah ulang, dan limbah makanan bisa ditekan secara signifikan.
Menurut data global, limbah makanan rumah tangga berkontribusi besar terhadap emisi gas rumah kaca. Artinya, setiap bahan yang berhasil diselamatkan bukan hanya menghemat uang—tapi juga mengurangi dampak lingkungan.
“Kita tidak perlu sempurna. Tapi kita bisa mulai dari tidak membuang sesuatu yang masih bisa digunakan,” ujar Deviani.
Solusi Sederhana yang Sering Diabaikan
Menariknya, banyak solusi yang justru terlalu sederhana untuk dianggap serius. Membersihkan kerak dengan bahan alami, mengatasi gulma dengan air panas, atau membuat pembersih sendiri dari dapur.
Tidak ada teknologi tinggi. Tidak ada biaya besar.
Yang ada justru logika sederhana yang sering kita lupakan.
Di sinilah gaya hidup ramah lingkungan kehilangan kesan eksklusifnya. Ia kembali menjadi sesuatu yang praktis, dekat, dan masuk akal.
Lebih dari Sekadar Hemat
Pada akhirnya, rumah hijau bukan tentang seberapa banyak produk “eco” yang kita beli. Tapi seberapa sedikit yang benar-benar kita butuhkan.
Setiap keputusan kecil—mengganti pembersih, mengolah ulang bahan, atau menunda pembelian—membentuk pola baru.
Dan mungkin, yang perlu kita ubah bukan hanya cara kita mengelola rumah.
Tapi cara kita memaknai cukup.
Karena di sana, garis antara hemat dan berkelanjutan mulai bertemu. (Ndo)









