Limbah tekstil terus meningkat seiring budaya “pakai-buang”, padahal sebagian besar pakaian sebenarnya masih bisa diselamatkan—dengan cara sederhana yang sering kita abaikan.
Tasikmalaya, Vesto – Industri fesyen adalah salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia. Laporan global menunjukkan, jutaan ton pakaian berakhir di tempat pembuangan setiap tahun—banyak diantaranya dibuang hanya karena rusak kecil atau tampak usang.
Masalahnya bukan pada jumlah pakaian yang kita punya. Tapi pada seberapa cepat kita menyerah pada kerusakan kecil.
Di rumah, keputusan itu sering terjadi tanpa banyak pikir: baju menyusut, serat berbulu, warna memudar—lalu diganti dengan yang baru.
Padahal, di balik satu potong pakaian, ada jejak panjang: air, energi, bahan kimia, hingga tenaga kerja.
Mengubah Cara Pandang, Bukan Sekadar Kebiasaan
Di Tasikmalaya, Deviani melihat persoalan ini sebagai bagian dari gaya hidup, bukan sekadar isu lingkungan. Sebagai pendiri komunitas Rumah Eco-Enzym, ia terbiasa mengajak orang melihat ulang relasi mereka dengan barang sehari-hari.
“Masalahnya bukan kita kekurangan pakaian. Tapi kita terlalu cepat menganggap sesuatu sudah tidak layak,” ujarnya.
Bagi Deviani, pakaian bukan sekadar benda pakai. Ada nilai, ada cerita, dan sering kali—ada potensi yang belum dimanfaatkan.
Belajar Memperbaiki, Bukan Mengganti
Pendekatan ini sejalan dengan filosofi yang mendorong praktik make do and mend—memperbaiki apa yang ada, alih-alih membeli baru.
Salah satu contoh paling sederhana adalah mengatasi “bobbles” atau bulu halus pada sweter. Alih-alih membuangnya, cukup dengan gunting kecil dan perawatan sederhana, pakaian bisa terlihat segar kembali.
Hal yang sama berlaku untuk sweter yang menyusut. Dengan campuran air hangat, kondisioner rambut, dan sedikit cuka, serat kain bisa dilenturkan kembali. Prosesnya memang butuh waktu—bahkan semalaman—tapi hasilnya sering kali mengejutkan.
Tidak instan. Tapi efektif.
“Di sinilah kita diuji,” kata Deviani. “Apakah kita memilih cara cepat, atau cara yang lebih bertanggung jawab.”
Efisiensi yang Terlupakan
Ada satu aspek yang sering luput dalam diskusi keberlanjutan: efisiensi ekonomi. Membeli pakaian baru mungkin terasa praktis, tapi dalam jangka panjang, biayanya tidak kecil.
Sebaliknya, memperbaiki memperpanjang umur pakai. Satu sweter yang diselamatkan berarti satu pembelian yang ditunda—atau bahkan dihindari.
Dalam konteks rumah tangga, ini bukan sekadar pilihan gaya hidup. Ini keputusan finansial.
Dan menariknya, solusi yang ditawarkan tidak membutuhkan alat mahal. Garam dapur untuk noda darah, campuran sederhana untuk noda lemak, hingga deterjen alami dari bahan seperti daun ivy—semua berbasis pada apa yang sudah tersedia.
Merawat, Bukan Sekadar Memakai
Devani menekankan bahwa inti dari perubahan ini bukan pada teknik, tapi pada perhatian.
“Kita sering merawat barang mahal dengan hati-hati. Tapi barang sehari-hari justru kita abaikan,” katanya.
Padahal, sebagian besar kerusakan pakaian terjadi karena hal sederhana: noda yang dibiarkan terlalu lama, cara mencuci yang tidak tepat, atau penggunaan bahan kimia berlebihan.
Merawat berarti memperlambat siklus “beli-pakai-buang”. Dan dalam skala besar, itu berarti mengurangi tekanan pada lingkungan.
Langkah Kecil yang Mengubah Arah
Pada akhirnya, krisis limbah tekstil bukan soal kurangnya solusi. Tapi soal kebiasaan yang kita ulang tanpa berpikir.
Satu pakaian yang diperbaiki mungkin terasa tidak berarti. Tapi jika itu menjadi kebiasaan, dampaknya berubah.
Dan mungkin, pertanyaannya bukan lagi seberapa banyak pakaian yang kita miliki.
Tapi seberapa jauh kita bersedia merawat apa yang sudah ada—sebelum memutuskan bahwa ia sudah selesai. (Ndo)









